Album

Loading...

Senin, 24 Desember 2012

HUBUNGAN TANAH, AIR DAN TANAMAN


         Tanaman memerlukan air
         Tanah menyimpan air yang dibutuhkan tanaman
         Atmosfer menyediakan energi yang diperlukan tanaman untuk mengambil air dari tanah

  A.Tanaman dan Air
          Air diperlukan tanaman untuk:
        Pencernaan
        Fotosintesis
        Transport mineral dan hasil fotosintesis
        Penunjang tubuh
        Pertumbuhan
        Transpirasi
          Sebagian besar (99%) air dipergunakan untuk transpirasi
          Transpirasi: proses evaporasi dari bagian tanaman
        Terjadi bila tekanan uap di daun lebih besar daripada di udara
        Terjadi bila stomata daun terbuka
          Selama tanaman hidup selalu ada gerakan air dari tanah menuju bagian tubuh tanaman dan daun
          Dari daun, air dilepas ke atmosfer dalam bentuk uap air melalui stomata à transpirasi

B.Tanah dan Air
Tanah terdiri dari:
        Mineral dan bahan organik
        Udara dan air yang mengisi pori-pori antar butiran tanah
          Butiran tanah diklasifikasikan menurut ukuran à pasir, debu, lempung à tekstur tanah
          Kandungan air dan udara dalam tanah berubah-ubah à lengas tanah

C.Air Membatasi Pertumbuhan
          Jumlahnya terlalu banyak (menimbulkan genangan) sering menimbulkan cekaman aerasi
          Jumlahnya terlalu sedikit, sering menimbulkan cekaman kekeringan
          Diperlukan upaya pengaturan lengas tanah supaya optimum, melalui pembuatan saluran drainase (mencegah terjadinya genangan) maupun saluran irigasi (mencegah cekaman kekeringan)


KEKERINGAN
          Kekeringan menimbulkan cekaman bagi tanaman yang tidak tahan kering
          Kekeringan terjadi jika lengas tanah lebih rendah dari titik layu tetap
          Kondisi di atas timbul karena tidak adanya tambahan lengas baik dari air hujan maupun irigasi sementara evapotranspirasi tetap berlangsung

Cekaman kekeringan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu:
  1. Cekaman ringan :jika potensial air daun menurun 0.1 Mpa atau kandungan air nisbi menurun 8 – 10 %
  2. Cekaman sedang: jika potensial air daun menurun 1.2 s/d 1.5 Mpa atau kandungan air nisbi menurun 10 – 20 %
  3. Cekaman berat: jika potensial air daun menurun >1.5 Mpa atau kandungan air nisbi menurun > 20%
                Apabila tanaman kehilangan lebih dari separoh air jaringannya dapat dikatakan bahwa tanaman mengalami kekeringan

Pertumbuhan dan hasil tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh cekaman kekeringan, merupakan hasil integrasi dari semua pengaruh cekaman pada proses fotosintesis, respirasi, metabolisme pertumbuhan, dan reproduksi .Proses fisiologis untuk mengetahui dampak kekeringan yang dapat diukur: tekanan turgor, bukaan stomata, laju metabolisme, kerusakan enzim, dan kerapatan akar .Pada tanaman yang tahan cekaman kekeringan, tekanan turgor daun tetap dipertahankan meskipun kandungan lengas tanah maupun air jaringan menurun. Hal ini terjadi melalui penurunan potensial osmotik daun yang disebut penyesuaian osmotik Penyesuaian osmotik dapat dilakukan melalui akumulasi atau sintesis zat terlarut yang menurunkan potensial solut dan mempertahankan turgor sel.


ASAS DAN TUJUAN ANALISA TANAH,AIR DAN JARINGAN TANAMAN DALAM PERTANIAN

                        Suatu pertanaman (crop) tidaklah lain dari pada suatu ekosistem teknologi. Perbedaan antara ekosistem alamiah ialah keterlibatan teknologi (manusia) dalam mengendalikan hubungan kegawaian (functional relationship) antara anasir makhluk dalam hal ini ialah tanaman dan anasir lingkungan hidup atau habitatnya. Dalam setiap hubungan kegawaian tentu ada tiga gatra (aspect),yaitu faktor,proses dan ruang serta waktu.
                        Faktor dalam ekosistem teknologi dalam hal ini ialah ekosistem pertanian terdiri dari unsur-unsur lingkungan hidup (fisik atau abiotika dan biotika) sebagai unsur pengemban (condiotining element,tanaman sebagai unsur pelaku dan teknologi (kegiatan manusia) sebagai unsur masukan (input). Dalam hal peternakan,unsur pelakunya berupa tanaman (rumput, hijauan) dan ternak,sedang dalam hal perikanan unsur pelakunya terdiri atas tetumbuhan air pangan ikan,plankton dan ikan.
                        Unsur-unsur lingkungan hidup fisik berupa iklim,tanah dan air,sedang yang bersifat biotika adalah makkhluk-makhluk lain didalam ekosistem,yang menjelmakan berbagai macam penyakit,hama dan gangguan (misalnya gulma),atau yang berlawanan dengan itu,yaitu yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman,ternak dan atau ikan yang dipelihara. Unsur-unsur lingkungan hidup biotika yang bermanfaat ialah jasad-jasad renik tanah penyemat (fixing) N,baik yang hidup bebas maupun yang hidup bersimbiosa dengan tanaman,micorrhyza,jasad-jasad saprobiotika,cacing tanah dan jasad-jasad renik pencerna yang hidup dalam alat pencernaan ternak atau ikan.
                        Teknologi atau unsur masukan sangat beraneka,tergantung dari kebutuhan,kemampuan pengusaha yang akan menerapkannya dan ketersediaan peluang dalam masyarakat. Masukan teknologi dapat berkisar mulai dari yang paling sederhana berupa penugalan tanah untuk membuat liang-liang biji,sampai dengan yang sangat maju berupa oenggunaan “artificial soil conditioners” untuk memperbaiki struktur tanah atau penciptaan hujan.
                        Proses dapat dijabarkan menjadi tiga perangkat kejadian. Yang pertama ialah proses-proses yang berlangsung dalam habitat masing-masing secara  terpisah  (tanah, atmosfer dan tanah) dan yang berlangsung dalam mintakat-gaul (interzone) anatara anasir-anasir habitat (tanah-atmosfer,tanah-air atau tanah-air-atmosfer). Yang kedua ialah proses-proses yang terjadi dalam tubuh tanaman atau hewan,baik yang kaifiat (intrinsic) maupun yang merupakan tanggapan tehadap pengaruh atau dampak (impact)  lingkungan hidupnya. Yang ketiga ialah proses-proses yang berlangsung dalam mintakat-gaul antara tanaman dan tanah (atau antara tanaman dan air untuk tanaman air) adalah lingkungan akar (rhizosphere).
                        Secara siratan (implicit) ruang dan waktu menunjuk pada kehadiran matra (dimension) menyamoing (lateral) dan cacak (vertical),serta mata “sejarah” . Ruang menjelmakan keberbagaian hubungan kegawaian menurut tempat atau kedudukan geografi,sedang waktu menjelmakan keberbagaian hubungan kegawaian menurut perjalanan saat. Ini berarti,bahwa hubungan itu dapat berubah karena letak atau karena zaman. Disamping itu waktu mengendalikan proses,dalam arti kata proses hanya dapat berlangsung kalau ada waktu dan pada gilirannya waktu menciptakan urutan kejadian. Dengan kata lain,kehadiran waktu dan ruang menyebabkan segala gejala atau nilai bersifat nisbi.

Analisa Tanah

                        Analisa tanah bertujuan mengungkapkan khuluk (nature),sifat (propeties) dan kelakuan atau tabiat (behaviour) tanah sebagai salah satu anasir habitat. Pengungkapannya dapat bersifat kualitatif atau kuantitatif. Pada pengungkapannya kuantitatif hakekat tanah dijabarkan menjadi sejumlah variabel yang gayut. Tnah dapat pula diperikan (descibed) secara kualitatif),dalam hal ini hakekat tanah dijbarkan menjadi atribut yang gayut.
                        Analisa kuantitatif tidak lain dari pada usaha untuk menyajikan perwatakan tanah dalam bentuk seperangkat angka. Dengan menggunakan angka-angka ini,watak tanah dapat dikerjakan lebih lanjut secara aritmstik stsu mstematik untuk mendapatkan watak yang lain lagi. Misalnya setelah didapatkan harga kadar lengas tanah dan lempung dapatlah ditentukan koefisien kolerasi atau persamaan regresi antara lengas tanah dan lempung.
                        Ada beberapa watak tanah yang hanya dpat diungkapkan secara kualitatif,misalnya bentuk satu-satuan struktur dan konsistensi. Ada yang dapat ditetapkan secara kuantitatif terbatas,misalnya batasbatas konsistensi (batas cair,batas gulung,batas lekat) untuk mengungkapkan konsistensi atau pembacaaan penetrometer untuk menguantitatifkan salah satu penjelmaan konsistensi. Ada yang dapat disajikan secara kuantitatif buatan dengan pengangkaan (scoring),misalnya warna dengan pengangkaan hue,value dan chroma,taraf perombakan bahan organik dengan cara peras von POST dan ketahanan agregat tanah dengan jalan penetesan air atau perendaman dalam campuran air-alkohol menurut cara de BOODT dan LEENHEER.
                        Pengamatan gejala menghasilkan perwatakan kualitatif. Misalnya warna diperikan menurut kenampakannya: merah,coklat,kelabu,kuning,kemerahan dan sebagainya. Konsistensi diperikan dengan sebutan : gembur,lunak,keras,lekat dan sebagainya.
                        Terutama dalam pengharkatan kesuburan atau kemampuan tanah untuk suatu penggunaan tanah tertentu,keadaan tanah diperikan secara kualitatif atas dasar angka-angka kuantitatif yang dihasilkan oleh analisa tanah. Untuk ini dibuat suatu sistem atau selera teknik. Misalnya pH : 4,5-5,0 = masam sekali,5,0-5,5 = masam,5,5-6,0 = agak masam,6,0-6,5 = masam lemah,6,5-7,0 = netrall dan seterusnya. K tersediakan  0,,3 me % disebut kesuburan K tinggi sehingga sangat boleh jadi tidak memerlukan pemupukan K. Struktur tanah yang terdiri atas agregat-agregat berukuran <5 mm dinamakan sangat halus (kalau berbentuk gumpal).
                        Pengualitatifan seringkali pula dikerjakan secara mengharkatkan harga sejumlah variabel sebagai suatu gabungan. Misalnya,apabila suatu tanah berkadar P tersediakan  > 12 ppm,K tersediakan  > 80 ppm,Zn-tersediakan > 0,6 ppm dan DHL <2,5 mS maka tanah tersebut dinilai subur untuk jagung. Untuk klasifikasi kemampuan tanah (produktivitas dan potensi tanah) penggabungan harga sejumlah variabel lebih padu lagi sehingga menghasilkan sebuah harga sebagai jelaan suatu gabungan. Pemaduan ini dapat dikerjakan dengan jalan menjumlah atau mengalikan harga variabel-variabel yang sebelumnya telah diangkakan (scored). Sistem menjumlah,misalnya dijumpai pada sistem yang dikembangkan sistem pengalian.
                        Dua tujuan pokok analisa kimiawi tanah ialah: 1. Diagnosa untuk menghilangkan kekurangan hara,2. Diagnosa untuk menghindari vketurahan (excess) hara. Pada awal perkembangannya,analisa kesuburan kimiawi tanah menekankan tujuan pertama. Baru akhir-akhir ini tujuan kedua diakui sangat penting  (Voss,1976). Disamping ini ada analisa fisika tanah yang bertujuan pokok: 1. Diagnosa untuk memperbaikikesuburan fisika tanah,2. Diagnosa faktor-faktor pembatas  fisika dalam pengusahaan tanah. Dinegara-negara berkembang,para petani pada umumnya tidak memperhatikan tatalola tanah dari segi fisika,karena keadaan fisika tanah memang tidak banyak terusik selama penggunaan tanah. Penerapan tatalola fisika tanah masihh terbatas pada sekedar pengelolaan tanah dengan alat-alat sederhana. Dengan pemasukan mekanisasi dan motorisasi dalam kegiatan bercocok tanam,dampaknya (impact) pada keadaan fisika tanah tidak dapat lagi diabaikan (Sanchez,1976). Kegiatan-kegiatan itu pengelolaan tanah,penanaman bibit,perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit,dan pemanenan hasil. Juga upaya peningkatan kejituan (efficiencY) pengairan,pengatusan dan perlindungan  tanah baru berhasil apabila kita mampu menghargai (appreciation) faktor  fisika tanah. Bahkan makin banyak bukti terkumpul tentangt kepentingan keadaan fisika tanah dalam menentukan keberhasilan pemupukan  pertanaman.
                        Dua langkah dalam proses analisa tanah perlu sekali diperhatikan sebaik-baiknya. Langkah pertama ialah pengekstrakan atau pemisahan bagian yang akan ditetapkan kadarnya dari contoh tanah. Langkah kedua ialah penetapan kadar zat yang ada dalam bagian yang telah terekstra atau terpisah itu. Dilihat dari segi tujuan analisa tanah,langkah pertamalah yang terpenting. Langkah kedua merupakan analisa kimiawi umum,sehingga tidak memerlukan pengetahuan khas tentang tanah atau tentang fisiologi tanaman atau tentang risosfer. Langkah kedua ini mungkin lebih baik diserahkan saja kepada pakar kimia (chemist) daripada dikerjakan oleh seorang pakar tanah yang kemahirannya dalam kimia analitika kebanyakan terbatas.
                        Peranan yang  harus dimainkan oleh soreng pakar tanah (soil scientist) justru pada langkah pertama itu. Langka pertama memerlukan pengetahuan dasar atau sekurang-kurangnya suaatu imajinasi tentang watak masing-masing anasir tanah yang terlibat dalam proses pemalihan (transformationh) dan pemindahan (translocation) zat  dan tenaga dalam tubuh tanah,tentang mekanisma pemalihan antar bentuk dan gawai dikalangan anasir-anasir tanah dan bagaimana mekanisme ini pada gilirannya menentukan mekanisme pemindahan zat dari tanah lewat risosfer masuk kedalam tubuh tanaman,dan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kedua mekanisme tadi. Atas dasar pengetahuan atau hipotesa itu orang yang merancangkan langkah pertama mencoba menyusun rekaan -rekaan analaitik untuk “meniru” (simulate) kejadian-kejadian tersebut didalam laboratorium.Faktor pembatas utama terhadap usaha peniruan ini ialah “ruang dan waktu”.
            Sistem tanah-risosfer-tanaman berhakekat ruang,sedang asas analisa laboratorium sampe sekarang selalu berhakekat bobot.Proses alamiah berhakekat malar (continuous) dalam waktu panjang,sedang analisa laboratorium selalu menyikat jangka waktu.Disamping itu didalam analisa,tanah selalu dipisahkan dari hubungan kegawaian(functional relationship) dengan risosfer dan tanaman.Justru hubungan  kegawaian inilah yang sebenarnya menggerakkan mekanisme pemalihan dan pemindahan zat.Faktor-faktor suhu,cahaya dan lengas sangat menentukan kegiatan pemalihan dan pemindahan zat.Dilaboratoriumk kita sering kali menggunakan suhu yang jauh kali melampaui kewajaran lapangan.Suhu lapangan mengembut (fluctuate) sepanjang hari dan juga mengembut menurut musim,suhu analisa justru kita buat tetap selama kelangsungan suatu tahap pekerjaan.Kecuali selama waktu terpanjang dalam kehidupan pertanaman padi sawah,risosfer tidak pernah merupakan lingkungan yang begitu basah seperti waktu contoh tanah kita campur dengan cairan pengekstrak.
            Mengingat hal-hal yang  telah dikemukakan diatas maka betapapun baik dan cermat analisa tanah itu dirancang dan dikerjakan,namun hasilnya tidak akan lebih daripada suatu pendekatan belaka,bahkan mungkin pendekatan yang tidak terlalu dekat dengan kenyataan yang kita tuju.Oleh karena itu penyifatan tanah untuk menentukan mutu atau harkatnya bagi pertanian tidak pernah bersifat mutlak dan tidak pernah dapat menjadi pemutus tunggal.Penyifatan tanah harus diuji untuk mendapatkan nilai empirik.Karena semua angka analisa memperoleh kebenaran secara empirik maka jelaslah jangka keberlakuannya terbatasi oleh daerah dan jenis tanaman.Tidaklah mengherankan mengapa,misalnya,di AS orang mengenal metoda analisa California,North Caroline ,Hawaii dan sebagainya.Apa yang ternyata memuaskan untuk kedadaan umum di California tidak tentu demikian pula untuk keadaan umum di Hawaii,dan sebaliknya.
            Perlu ditambahkan,bahwa dalam pengertian “mutu” atau harkat tersirat gatra (aspect) “tafsir”.Meskipun angka-angka atau data yang dihadapi bersifat nyata dan obyektif,namun hasil tafsiran selalu bersifat,atau setidak-tidaknya mengandung ramuan,subyektif.Kesubyektifan hasil tafsiran berasla dari selera perorangan.Selera ilmiah atau teknik yang dimiliki seseorang timbul dari latar belakang pendidikan atau pengetahuan,pengalamannya,anutan falsafahnya yang sebagian diperoleh dari lingkungan intelektualnya dan daya imajinasinya.

ANALISA  JARINGAN  TANAMAN
            Analisa jaringan tanaman selaku pandu pemupukan pertanaman didasarkan atas suatu konsep bahwa apa yang ada dalam tubuh tanaman berkaitan dengan pertumbuhan.Kadar hara dalam tanaman biasanya menurun sejalan dengan pertumbuhan dan apabila penurunan ini cukup banyak maka laju pertumbuhan menjadi kurang dari pada tanaman berkadar  hara lebih tinggi (Ulrich,1976).Kadar hara yang menyebabkan laju pertumbuhan tanaman mulai menurun dibandingkan dengan tanaman yang mempunyai kadar hara lebih tinggi selagi factor-faktor tumbuhan lainnya berada dal;am keadaan memuaskan ,yang dianmakan kadar hara genting  (critical nutrient concentration ).Secara kuantitatif dapat dikatakan ,bahwa nkadar genting adalah suatu kadar hara yang menurunkan pertumbuhan tanaman sebanyak 10 % dibandingkan dengan pertumbuhan maksimum.
            Makin lama suatu tanaman berada dibawah kadar genting  dan makin awal hal ini terjadi dalam musim tumbuh,makin berkuranglah pertumbuhan atau hasilnya dan makin besar kebolehjadian tanman memperlihatkan tanggapan terhadap pemupukan.Jadi dengan analisa jaringan orang dapat menduga apakah pengadaan hara dalam tanah sesuai dengan keperluan tanaman akan hara.Dengan analisa jaringan yng dirancang secara berulang sepanjang masa tumbuh tanaman,maka orang yang memperoleh serentetan gambaran tentang keadaan pengadaan hara dalam tanah masing-masing saat selama musim tumbuh itu.
            Analisa jaringan sebetulnya tidak lain daripada pengembangan satu metoda yang sudah lama dikenal orang yang dinamakan “bio-essay”.Dan dikerjakan dengan jasad renik atau dengan kecambah menurut kecambah menurut metoda NEUBAUER.Misalnya,penetapan N-tersediakan atau P-teresediakan dengan jamur Cuninghamella blakesleana,K-tersediakan atau hara renik tersediakan (Cu,Zn,Mo) dengan asper gillus miger (Wilde,dkk,1972).Kalau pada bio-essay dengan jasad renik tahana(status) hara dalam tanah dinilai menurut watak pertumkbuhan jasad renik,dengan analisa jaringan tanaman tahana hara dalam tanah dinilai menurut  tahana hara dalam tubuh tanaman sendiri.Dengan demikian tidak digunakan suatu perantara (dalam hal ini jasad renik) untuk menilai tahana hara tersebut.Jadi penafsiran dapat dikerjakan lebih langsung.
            Analisa jaringan tanaman digunakan untuk diagnosa kebutuhan hara suatu pertanaman pada masing-masing saat selama pertumbuhan pertanaman yang gayut dengan masa-masa hidup yang mengendalikan berbagai anasir hasil.Kiranya tidak perlu dijelaskan kembali,bahwa kerendahan kemampuan penyedia hara tanah tidak selalu berarti hanya dapat diperbaiki dengan jalan pemupukan.Tidak jarang perbaikan itu dapat dilaksanakan dengan baik melalui perbaikan pergiliran tanaman,perbaikan struk tanah,perbaikan pengairan,pengatusan yang lebih baik,jarak tanaman yang lebih lebar,penyiangan yang lebih mempan ( efektif),penggunaan varietas yang lebih baik dan sebagainya.Sering perbaikan itu dapat dicapai dengan cara-cara yang lebih murah daripada penggunaan pupuk buatan.Jadi bagaimanapun,pengetahuan tentang  tanah sebagai suatu edafon tidak dapat disampingkan oleh aanalisa jaringan tanaman.
            Berbeda dengan analisa tanah dalam analisa jaringan ekstraksi zat hara dari dalam tanah telah dikerjakan sendiri oleh tanaman yang kita analisa.Maka masalah cara ekstraksi,yang dalam hal analisa tanah menjadi langkah yang sangat menentukan,tidak menonjol.Yang perlu kita lakukan sebagai langkah pertama dalam analisa tinggal pembebasan secara lengkap zat-zat hara yang berada dalam sel-sel tanaman yang jauh lebih penting,dalam hubungannya dengan kemungkinan manfaat angka-angka analisa bagi penyimpulan maknanya,ialah pemilihan bagian tanaman yang paling cocok untuk dianalisa,dan kapan pengambilan bagian itu sebaiknya dilakukan mengingat umur atau taraf perkembangannya masing-masing bagian tanaman apa yang cocok maupun masa kapan yang sesuai untuk pengambilan contoh jaringan,erat berkaitan dengan watak fisiologi masing-masing jenis tanaman.
            Disamping sangat berguna untuk merangsang perbaikan tahana hara dalam tanah atau pemupukan,analisa jaringan tanaman juga dapat dimanfaatkan untuk memeriksa hasil usaha perbaikan tahana hara tersebut.Dengan mengikutkan acara analisa jaringan pada acra pemupukan,misalnya,orang yang memperoleh suatu sarana untuk menilai dan menelaah secara langsung,teratur dan malar  tatalola  yang telah ditetapkan pata per  tanaman.Dengan nalisa jaringan kita seolah-olah mendapatkan jalan untuk berwawancara dengan tanaman.Ada hal lagi yang perlu diperhatikan agar supaya wawancara tersebut dapat menghasilkan jawaban yang mendekati kebenaran ,tanaman yang  terpilih untuk dianalisa harus tidak sedang menderita karena serangan pengganggu (gulma),penyakit dan atau hama.Maka dari itu penyiangan dan perlindungan per tanaman perlu dijadikan persyaratan dalam acara pemonitoran tahana hara dalam jaringan tumbuhan.
            Analisa jaringan boleh jadi pertama penting bagi pendidikan tahana renik,baik untuk memastikan kekurangan atau  kelebihan meracun.Ekstraksi unsur-unsur hara renik dari tanah menghadapi persoalan yang lebih rumit daripada pengekstrakan unsur hara makro.Banyak factor yang mempengaruhi kelakuan unsure hara renik disamping  factor-faktor yang juga berpengaruh atas kelakuan unsur makro,masih ada factor-faktor yang berpengaruh kuat atas kelakuan unsure hara renik,salah satunya yaitu lempung dan bahan organik tanah yang  terpenting .Kesudahan analisa tanah mengenai unsur-unsur hara renik tidak mudah ditafsirkan.Perbedaan kecil berarti banyak sehingga menyulitkan penetapan interfal kelas harkat yang sesuai.
            Dengan menyadur  takrif HILTNER yang disajikan pada tahun 1904,TIMONIN (1965) memebedakan tiga pengertian sebagai berikut :
1.      Tanah-resosfer : wilayah tanah yang berada dibawah pengaruh serta merta akar  tumbuhan.Tetumbuhan memperoleh zat hara yang dibutuhkannya dari resosfer dan resosfer pulalah yang menampung buangan hasil sampingan proses fisiologi dari akar.
2.      Rhizoplane : mintakat permukaan akar yang mempunyai kerapatan penghunian jasad renik terdapat dan dalam banyak kejadian menciptakan suatu tapis hayati disekeliling akar
3.      Histosfer : jaringan akar yang dimukimi oleh ” bakteriorrhizae” yang  terdapat didalam sel-sel tumbuhan dan oleh mahluk-mahluk yang  tumbuh didalam ruangan bebas diantara sel-sel akar.
Pemupukan hara renik biasanya dilakukan lewat daun dengan semprotan cairan larutan atau lewat  pokok  batang (pada pohon-pohonan) dengan pantekan logam.Hal-hal ini bolelhlah ditambahkan untuk mendukung acara diagnosa  tahana unsure renik dengan analisa jaringan ,karena dalam pemberiannya tidak dipergunakan perantara tanah.
Ada satu kepentingan analisa jaringan lagi,yang dalam rangka usaha pengoptimuman daya guna sumber daya alamiah untuk pertanian, menjadi sangat penting.Dalam rangka ini jaringan diperluas tidak saja mengenai unsure unsur hara, akan tetapi mencakup juga air dan bahan-bahan hasil asimilasi seperti bahan kering total, karbohidrat, protein dan lemak. Dengan menghubungkan kadar-kadar air dan bahan-bahan asimilasi dalam jaringan dengan jumlah dan laju masukan impor (input) air dengan tenaga pancar matahari (radiated solar energy) pada pertanaman, dapatlah dihitung kejituan (efficiency) pemanfaatan anasir-anasir fisik habitat oleh pertanaman sebagai anasir makhluk dari suatu ekosistem teknologi.

ANALISA AIR
            Yang dimaksudkan dengan “air” disini ialah air hujan dan air pengairan yang masuk ke petak pertanaman dan air pengatusan yang keluar dari petak pertanaman. Analisa air yang masuk ditujukan untuk mengetahui peranan air selaku salah satu sumber hara tanaman dan perananya selaku factor yang dapat mempengaruhi suasana lingkungan perakaran. Analisa air yang keluar bertujuan untuk mengetahui “kebocoran” hara atau obat-obatan pertanian, yang kalau sampai mencapai suatu kerayaan (magnitude) tertentu dapat menimbulkan pengotoran (contamination), bahkan  mungkin sekali pencemaran, pada keairan umum yang menjadi sumber air rumah tangga atau air ternak (sumur, kolam ikan, tali air pengairan yang melalui desa dan sungai).
            Air dapat menurunkan harkat tanah untuk pertanian dari segi penggaraman (DHL meningkat tinggi), pemasaman atau pembasa-an, perubahan imbangan hara, pelindian dan pendegradasian struktur yang berkaitan dengan nilai SAR yang terlalu tinggi (ESP meningkat tinggi) atau dengan kadar bahan tersuspensi halus yang menurunkan porositas atau dayalulus air dan atau udara. Sebaliknya, air dapat meninggikan harkat tanah untuk pertanian dari segi pengayaan hara, pelindian zat-zat racun, perbaikan struktur dan konsistensi tanah-tanah yang bertekstur kasar dengan bahan tersuspensinya dan kolmatasi medan.
            Pada tahun-tahun terakhir ini telah cukup banyak bukti terkumpul, bahwa penilaian hujan tidak cukup hanya dari segi jumlah dan agihan air yang tercurahkan sepanjang tahun atau musim saja, akan tetapi perlu diikutkan pula penilaian dari segi kimiawi air hujan. Di Kalimantan, misalnya, tidak jarang tertampung air hujan yang mempunyai pH di sekitar 4,0. Air hujan yang jatuh menerobos tajuk pohon biasanya mengandung nitrat lebih tinggi daripada yang jatuh di lapangan terbuka. Air hujan yang jatuh di kawasan pantai membawa garam yang berasal dari percikan air laut yang terbawa angin ke darat. Di Jepang ada suatu kepercayaan di kalangan para petani jeruk, bahwa kebun-kebun yang diusahakan di jalur-jalur pantai menghasilkan buah jeruk yang lebih manis karena percikan garam laut ini. Hujan yang jatuh dalam daerah pengaruh gunung berapi mengandung sulfat lebih tinggi. Maka di Negara-negara yang telah maju, terutama Negara-negara Skandinavia dan Australia, orang telah mulai sibuk membuat peta hujan atas dasar suasana kimiawinya. Dari peta-peta itu dapat dibaca, bahwa hujan yang jatuh pada musim panas mempunyai susunan kimiawi yang berbeda dengan yang jatuh pada musim dingin.
            Mungkin kini sudah tiba saatnya untuk Indonesia memikirkan secara sungguh-sungguh kemungkinan memasukkan data kimiawi air hujan sebagai bagian dari laporan agrometeologi yang dikerjakan secara rutin. Dengan memilki peta-peta kimiawi air hujan, misalnya untuk musim hujan dan musim kemarau, yang ditinjau bersama dengan peta tanah, peta fidiografi dan peta timbulan (relief), kita akan mempunyai landasan yang lebih kuat untuk menyusun pewilayahan pemanfaatan lahan (land).

PENGAMBILAN CONTOH BAHAN UNTUK ANALISA
            Di atas telah dikemukakan, bahwa pada tahap analisa tanah langkah yang terpenting ialah pengekstrakan contoh tanah. Pengekstraan tidak dilakukan pada analisa jaringan karena jaringan telah mengandung ekstrak tanah yang pengekstrakannya telah dilakukan sendiri oleh tanaman. Juga pada analisa air kita dapat langsung melangkah ke pemisahan dan penyidikan unsur. Pada analisa jaringan, sebagai pengganti langkah pengekstrakan, dikerjakan langkah pencernaan (digestion), secara kering atau basah, untuk memperoleh bentuk bahan yang mudah ditangani lebih lanjut untuk pemisahan dan penyidikan unsur.
            Mengingat hal-hal tersebut di atas, analisa air merupakan pekerjaan yang paling sederhana. Yang justru lebih sulit dalam analisa air dibandingkan dengan analisa tanah dan jaringan, ialah mendapatkan contoh yang mewakili, terutama untuk air hujan dan air aliran permukaan. Baik air hujan maupun air aliran permukaan selalu bergerak. Di samping bergerak, air aliran permukaan tidak terikat pada satu tempat tertentu. Air tanah juga mengalir, akan tetapi karena kecepatannya cukup lambat maka dapat dianggap sebagai suatu benda yang terikat pada tempatnya sebagaimana halnya dengan tanah dan tanaman.
            Lepas dari analisanya sendiri, mendapatkan contoh yang baik merupakan suatu kemutlakan apabila kita menginginkan data yang siap untuk ditafsirkan. Dengan kata lain, analisa yang sempurna dan data yang mempunyai jenjang kesaksamaan (precision) tinggi, bahkan juga mempunyai jenjang ketepatan (accuracy) tinggi, tidak berarti sama sekali apabila kita tidak yakin akan keterandalan contoh yang dianalisa. Pekerjaan analisa sebenarnya kias (analogus) dengan pekerjaan mengintip ke dalam suatu ruangan luas yang hanya diterangi secara samar-samar sekali. Kalau kita salah memilih lubang intip, kita akan dapat memperoleh gambaran yang keliru sama sekali tentang keadaan ruangan itu dari ruangan-ruangan yang lain.
            Acapkali orang menganggap ringan masalah contoh ini dalam rangka analisa. Lebih-lebih orang-orang yang bukan orang laboratorium atau orang-orang yang secara berlebiihan mengandalkan “pengalaman” mereka bekerja di lapangan. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, bahwa sebelum kita membicarakan masalah analisanya sendiri, perlu terlebih dahulu kita bahas dan selesaikan masalah pengambilan contoh untuk masing-masing jenis analisa. Pengambilan contoh juga harus dirancang menurut tujuan analisa. Misalnya, analisa tanah untuk bertujuan pedogenesa atau pedotaksonomi memerlukan contoh tanah yang berbeda dari pada analisa tanah untuk mengungkapkan kesuburan tanah atau untuk agrohidrologi. Bahkan meskipun bertujuan sama untuk kesuburan tanah, akan tetapi yang satu untuk tanaman semusim dan yang lain untuk tanaman tahunan, atau yang satu untuk tanaman darat (upland) dan yang lain untuk sawah, masing-masing memerlukan rancangan pengambilan contoh yang tidak sama. Contoh tanah sawah harus dijaga dan jangan sampai mengalami pengeringan, baik selama pengambilan maupun selama pengangkutan dan penyimpanan, dan harus dianalisa sebagai contoh “aseli” (undisturbed). Tidak hanya “aseli” menurut keadaan struktur atau morfologinya, akan tetapi yang lebih penting “aseli” menurut suasananya yang langka udara itu.
            Yang termasuk dalam masalah contoh itu, di samping pemilihannya dan pengambilannya, juga penyiapannya dan penyimpannya menunggu penganalisaanya. Dalam hal contoh jaringan tanaman ada beberapa masalah yang periu di bahas yaitu :
1.      Bagian tanaman yang cocok mengingat jenis tanamannya,
2.      Saat pengambilan yang sesuai mengingat watak fisiologisnya, baik untuk memperoleh gambaran pukulrata maupun untuk memperoleh gambaran yang malar (continuous),
3.      Cara mengangkut dan menyimpan sebelum disiapkan untuk analisa mengingat kelangsungan proses enzimatik yang dapat mengubah susunan kimiawi jaringan selama pengangkutan dan penyimpanan, dan
4.      Cara penyiapan contoh (pengeringan dan penghalusan) yang dapat menjaga “keaslian” contoh
 

DAFTAR PUSTAKA

Sanchez, Pedro A (1976) : Properties and Management of Soils in the Tropics.                                         John Wiley and Sons. New York. xii + 618 h.
Timonin, M.I. (1965) : Interavtion of Higher Plants and Soil Microorganism. Dalam : C.M. Gilmour and O.N. Allen (editors), Microbiology and Soil Fertility. Proceedings of the Twenty-Fifth Annual Biology Colloquium. Oregon State University Press. H 135-158.
Ulrich, Albert. (1976) : Uses and Limitations of Soil Testing. Dalam : H.M. Reisenauer (editor), Soil and Plant-Tissue Testing in California. Div. Agr. Sci. Univ. Of Calif. Bull. 1879. H 35-37.
Wilde, S. A. ; G.K. Voigt, and J.G. Iyer (1972) : Soil and Plant Analysis for Tree Culture. Fourth Revised Edition (Gordon Chesters, editor). Oxford & IBH Publishing Co. New Delhi. Viii + 172 h.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar